Jakarta – Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran
(STIP) Jakarta sukses menyelenggarakan seminar hybrid bertajuk
“Decarbonization and Green Shipping Energy” pada Selasa, 29 Juli 2025, di
Auditorium Nusantara STIP Jakarta. Acara ini bertujuan
untuk meningkatkan kesadaran dan pemahaman tentang pentingnya dekarbonisasi di
sektor pelayaran, serta menyampaikan perkembangan teknologi ramah lingkungan
dan inovasi dalam green shipping.
Seminar ini juga mendorong sivitas akademika dan
pemangku kepentingan untuk berperan aktif dalam pengurangan emisi karbon, serta
menjalin kerja sama dan kolaborasi dengan praktisi industri maritim nasional
dan internasional
Mengapa Dekarbonisasi Penting?
Perubahan iklim global menjadi perhatian utama,
termasuk di sektor pelayaran. Isu dekarbonisasi dan
pelayaran hijau menjadi fokus penting dalam agenda kebijakan maritim dunia
Sekretaris Badan Pengembangan SDM Perhubungan,
Dr. Capt. Wisnu Handoko, M.Sc., dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas
inisiatif STIP Jakarta ini. Beliau menekankan bahwa
sektor pelayaran menyumbang sekitar 3% dari total emisi global dan berpotensi
melonjak hingga 44% pada tahun 2050 jika tidak ada intervensi
Seminar ini dihadiri oleh
beragam peserta, termasuk Direktur dan Kepala Unit Pelaksana Teknis di
lingkungan Pusat Pengembangan SDM Perhubungan Laut, perwakilan Sekretariat
BPSDMP, perwakilan perusahaan pelayaran dan industri maritim, dosen, pengajar,
instruktur, mahasiswa pascasarjana STIP, serta kadet/taruna dan taruni
Para
narasumber yang mengisi acara adalah profesional dari sektor maritim dan
institusi terkait, yaitu:
·
Ibu Danawiryya S. dari
Pusat Pengelolaan Transportasi Berkelanjutan
·
Bapak
Bayu Tuk Windriyo dari PT Pelayaran Bahtera Adhiguna
·
Bapak
Veby Nandini dari PT. Wartsila Indonesia
·
Bapak
Japie Ernest Tasijam dari PT. Temas
Moderator
acara adalah Ibu Dr. Lili Purnama Sita, S.Si.T., M.M.Tr
Bagaimana
Solusi Dekarbonisasi Diterapkan?
Dalam seminar tersebut, dibahas berbagai solusi
dan teknologi untuk dekarbonisasi di sektor maritim:
· Bahan Bakar Alternatif (PtX Fuels):
Langkah efisiensi saja tidak cukup untuk mengurangi emisi Gas Rumah Kaca (GRK).
Bahan bakar PtX (Power-to-X), yang dihasilkan dari
hidrogen hijau dan karbon dioksida (atau nitrogen untuk e-Amonia), merupakan
satu-satunya pilihan terukur dan ramah iklim untuk menghilangkan fosil pada
transportasi laut jarak jauh, dengan proyeksi pangsa pasar minimal 50% pada
tahun 2050
· Pengangkutan Gas Alam Terkompresi (CNG): PT Pelayaran Bahtera Adhiguna menghadirkan implementasi green shipping melalui pengangkutan gas alam menggunakan kapal CNG. Penggunaan CNG dibandingkan High Speed Diesel (HSD) pada unit pembangkit listrik dan kapal menunjukkan efisiensi yang signifikan. Contohnya, PLTMG Lombok Peaker 90MW yang ditenagai CNG dapat menghemat biaya bahan bakar harian Rp 3.341.088.000 dibandingkan HSD, dengan selisih emisi CO2 sebesar 42.387.870 ton CO2 . Untuk kapal, penggunaan CNG menghemat Rp 146.205.224 per hari dengan selisih emisi CO2 sebesar 1.423.540,1 ton CO2 . Pengangkutan gas alam dari Gresik ke Lombok menggunakan CNG vessel seperti Jayanti Baruna (kapasitas 23,38 MMSCF) didasari oleh jarak menengah, volume produksi sedang, dan infrastruktur yang lebih cepat serta murah dibandingkan pipa atau LNG .
· Penerapan
LNG sebagai Bahan Bakar Transisi: PT Temas memperkenalkan penggunaan Liquefied
Natural Gas (LNG) sebagai bahan bakar transisi yang efektif. LNG mengurangi emisi sulfur oksida (SOx) hampir 100%,
nitrogen oksida (NOx) hingga 85%, dan emisi CO2 hingga 20-30%, sejalan dengan
peraturan IMO 2020
· Teknologi
Dekarbonisasi Wärtsilä: Wärtsilä Indonesia menawarkan berbagai solusi
dekarbonisasi, termasuk optimasi mesin, elektrifikasi dan sistem hibrida,
solusi hemat energi, sistem pengurangan emisi (abatement systems) dan
penangkapan karbon, serta solusi siklus hidup dan layanan
Melalui kegiatan ini, PPSDMPL
berharap agar semua elemen yang terlibat dapat kontribusi nyata terhadap upaya
dekarbonisasi dan transisi energi di sektor pelayaran