JAKARTA – Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia Perhubungan
Laut (PPSDMPL) terus berkomitmen memperkuat kualitas pendidikan dan pelatihan
kepelautan di Indonesia. Guna menghadapi tantangan modern di dunia maritim saat
ini, sekaligus dalam rangka memperingati Day of the Seafarer 2026,
PPSDMPL bekerja sama dengan International Transport Workers' Federation (ITF)
London dan Pertamina Maritime Training Center resmi menyelenggarakan
kegiatan Training of Trainers (TOT) on Mental Health Management for
Seafarers bagi para instruktur Diklat Basic Safety Training (BST).
Pelaksanaan ToT ini juga merupakan langkah
konkret dan tindak lanjut implementasi regulasi internasional yang tertuang
dalam IMO Regulation Maritime Safety Committee (MSC) 108/560. Kegiatan berlangsung
selama dua hari, yakni 11 s.d. 12 Juni 2026, bertempat di Hotel Patra, Jakarta.
Acara ini dihadiri oleh jajaran pejabat struktural dan
fungsional di lingkungan PPSDMPL, serta menghadirkan para pakar Internasional
sebagai narasumber, yaitu Dr. Syed Asif Altaf selaku ITF Global Wellbeing
Program Coordinator dan Mr. Brant Connors selaku perwakilan dari
International Maritime Health Association (IMHA).
Dalam laporan pelaksanaan yang disampaikan oleh Ketua
Pelaksana Kegiatan, Novianto Nugroho Putra, S.S.T.PEL., M.Pd., disebutkan bahwa
pelatihan intensif ini diikuti oleh 35 peserta yang terdiri dari para pengajar,
dosen, dan staf akademik dari berbagai Unit Pelaksana Teknis (UPT) Diklat
Maritim di bawah jaringan PPSDMPL.
Pada sesi pembukaan, Kepala PPSDMPL yang diwakili oleh
Kepala Bidang Pelatihan PPSDMPL, Dr. Capt. Ilham Ashari, S.Si.T., M.M., M.Mar.,
menyampaikan sambutan penting mengenai urgensi kesehatan mental di atas kapal.
Beliau menekankan bahwa karakteristik industri pelayaran sangat khusus, penuh
tantangan, dan memiliki tingkat tekanan operasional serta tuntutan keselamatan
yang tinggi.

"Selama ini, keselamatan pelaut sering kali dipahami
terutama dari aspek teknis dan fisik seperti keselamatan kapal atau prosedur
darurat. Namun, perkembangan dunia maritim saat ini menuntut kita untuk melihat
keselamatan secara lebih luas. Keselamatan juga menyangkut kesehatan mental,
kesejahteraan psikologis, hubungan kerja yang sehat, serta perlindungan dari
kekerasan, pelecehan, bullying, dan perilaku tidak pantas di atas
kapal," ujar Ilham Ashari.
Lebih lanjut, beliau menjelaskan bahwa instruktur Diklat Basic
Safety Training (BST) memiliki peran yang sangat krusial karena berada di
garda terdepan dalam membentuk pemahaman dasar para calon pelaut maupun pelaut
aktif mengenai keselamatan kerja. Melalui ToT ini, materi mental health
khususnya pada aspek Personal Safety and Social Responsibility
diharapkan tidak lagi dipahami sebatas teori, melainkan sebagai pembentukan
karakter dan budaya kerja.
"Melalui ToT ini, para instruktur diharapkan
mampu memahami isu-isu utama seperti stres kerja, kelelahan, isolasi, hingga
dampak kekerasan di lingkungan kerja, lalu menyampaikannya kembali dengan
pendekatan yang sensitif, humanis, dan tidak menimbulkan stigma bagi peserta
diklat. Pelaut yang sehat secara mental akan lebih mampu bekerja aman,
mengambil keputusan dengan baik, dan berkontribusi pada budaya keselamatan yang
positif," tambahnya.
Di akhir sambutannya, Kepala Bidang Pelatihan PPSDMPL
berpesan agar seluruh peserta memanfaatkan momentum ini untuk saling bertukar
pengalaman dan menyerap praktik terbaik dari para fasilitator. Selepas
pelatihan, para pengajar diharapkan mampu menjadi motor penggerak perubahan di
lembaga diklat masing-masing demi keseragaman metode pembelajaran BST di UPT
Matra Laut.
Apresiasi tinggi juga disampaikan kepada ITF London dan
Pertamina Maritime Training Center atas kolaborasi yang terjalin. Sinergi ini
diharapkan dapat terus berlanjut guna membangun sistem diklat kepelautan
Indonesia yang lebih adaptif, humanis, serta berorientasi pada keselamatan
pelaut secara menyeluruh, sehingga mampu bersaing di industri maritim global
yang inklusif.