JAKARTA (13/05) – Sebagai langkah strategis dalam merespons dinamika industri maritim global, Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Perhubungan (BPSDMP) bersama Asosiasi Prodi Pelayaran Indonesia (APPI) selenggarakan Simposium bertajuk "APPI Sebagai Pemrakarsa Penjaminan Mutu Pendidikan Tinggi Vokasi Pelayaran". Kegiatan ini diselenggarakan pada 11-12 Mei 2026 dan dibuka secara resmi oleh Kepala BPSDMP, Suharto, di Gedung Nusantara STIP Jakarta, pada Senin. (11/05)
Dalam sambutannya, Kepala BPSDMP menekankan bahwa kolaborasi antara regulator dan asosiasi program studi sangat krusial, untuk menjamun mutu pendidikan Maritim.
"Penjaminan mutu bukan sekadar pemenuhan administratif, melainkan kewajiban moral untuk menjaga kualitas lulusan agar tetap kompetitif di pasar kerja internasional," tegasnya.
Visi Strategis dan Latar Belakang APPI Menghadirkan perspektif kebijakan makro, Staf Ahli Menteri Bidang Teknologi dan Energi, Dr. Capt. Antoni Arif Priadi, M.Sc., menyampaikan mengenai urgensi transformasi APPI, bahwa inisiasi APPI (yang bermula dari AP3TI pada 2017) lahir sebagai solusi atas beragamnya kurikulum, adanya kesenjangan kualitas antar lembaga, serta posisi tawar pendidikan vokasi yang masih perlu diperkuat.
"Di era transformasi 2024 ini, APPI harus menjadi Think Tank sekaligus Action Tank. Kita menghadapi katalis global berupa digitalisasi, dekarbonisasi, dan otomatisasi kapal," ujar Capt. Antoni.
Ia juga menekankan visi puncak APPI untuk mendorong pembentukan "Institut Transportasi Indonesia" (ITI) sebagai pusat unggulan riset teknologi maritim dan pengembangan jenjang S2/S3 Terapan, guna mencetak pendidik dan peneliti maritim masa depan yang mampu menguasai Industri Maritim 4.0.
Senada dengan hal tersebut di atas, , Kepala Pusat Pengembangan SDM Perhubungan Laut (PPSDMPL), Budi Rahardjo, mengungkapkan bahwa visi APPI tersebut harus didukung dengan Pembinaan dan Karakter Humanis, dengan menekankan peran pembinaan melalui monitoring delapan standar pendidikan. Ia juga menambahkan pentingnya karakter pendidik yang "momong" (menjadi teman, orang tua, dan guru) guna membentuk taruna yang humanis dan futuristik.
"Lulusan kita harus memiliki ijazah akademik yang selaras dengan sertifikat kompetensi (COC) agar memiliki kemampuan critical thinking dalam menghadapi tantangan teknologi kapal ramah lingkungan," jelasnya.
Kegiatan Simposium ini menghadirkan diskusi komprehensif dari empat narasumber ahli, untuk membuka wawasan tentang pendidikan Maritim, yaitu:
- Prof. rer.net. Imam Buchori, S.T. (BAN-PT): Membedah strategi akreditasi melalui LAM Translog untuk standarisasi internasional.
- Capt. Indra Priyatna, M.M. (Praktisi): Menekankan kesiapan kurikulum terhadap keamanan siber maritim dan pengoperasian kapal otonom (Autonomous Ship).
- Dr. Ir. H. Ahmad Wahid, S.T., M.T., M.Mar.E. (DPKP): Mengupas implementasi IMO Net-Zero Framework dalam kurikulum untuk mendukung Green Shipping.
- Mauritz H. M. Sibarani, DESS., ME. (STIP Jakarta): Menyoroti pentingnya penguasaan literasi digital dan manajemen energi terbarukan di sektor pelabuhan.
Sebagai aksi nyata transformasi pendidikan maritim, pada kegiatan ini juga dilaksanakan Kesepakatan Strategis melalui penandatanganan Berita Acara oleh perwakilan 21 Perguruan Tinggi Pelayaran. Dengan berfokus pada Empat poin utama yaitu:
- Penyamaan Persepsi: Standarisasi format skenario praktik untuk prodi Nautika, Teknika, dan KALK/MTL.
- Penyusunan Skenario Praktik: Kewajiban penyusunan dokumen praktik pada materi pembelajaran inti.
- Internalisasi Mandiri: Penerapan format standar di seluruh institusi anggota APPI.
- Target Pelaporan: Hasil penyempurnaan dokumen wajib disampaikan kepada PPSDMPL paling lambat 26 Mei 2026.
Melalui sinergi ini, PPSDMPL dan APPI berkomitmen memastikan SDM maritim Indonesia tetap unggul, adaptif terhadap teknologi energi baru, dan diakui secara global.
Jakarta, 13 Mei 2026