JAKARTA – Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia Perhubungan
Laut (PPSDMPL) menegaskan komitmennya mendukung transisi dekarbonisasi maritim
global. Komitmen itu diwujudkan melalui partisipasi dalam workshop Internasional
bertajuk "From Ambition to Practice: Co-Creating a Green Shipping
Corridor in Indonesia" yang diselenggarakan Kedutaan Besar Kerajaan
Belanda di Indonesia, Rabu (7/10/2026), di Hotel Shangri-La, Jakarta Pusat.
Workshop yang berlangsung sejak pukul 09.00 hingga
sore hari itu, PPSDMPL bersama pemangku kepentingan maritim Indonesia dan
Belanda membahas cara menerjemahkan kebijakan pelayaran hijau (green
shipping) menjadi langkah operasional, termasuk melalui pendekatan koridor
pelayaran hijau.
PPSDMPL hadir bersama tiga unit pelaksana teknisnya, yakni
Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP), Balai Pendidikan dan Pelatihan Ilmu
Pelayaran (BP3IP), dan Politeknik Pelayaran (Poltekpel) Banten. Forum ini juga
diikuti perwakilan Kementerian Luar Negeri, Direktorat Jenderal Perhubungan
Laut, PT ASDP Indonesia Ferry, PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo), serta asosiasi
maritim nasional, yaitu INSA dan ABUPI. Narasumber utama adalah Senior Policy
Officer Maritime dari Kementerian Infrastruktur dan Pengelolaan Air Belanda.
Keikutsertaan dalam forum ini menjadi tonggak Proyek
Perubahan pada Pelatihan Kepemimpinan Nasional Tingkat II melalui Program
Pengembangan Modal Insani Maritim Hijau (Green Maritime Human Capital
Development Program/GMHCDP). Program tersebut diarahkan untuk memperkuat
kompetensi sumber daya manusia (SDM) di bidang pelayaran hijau dan
dekarbonisasi guna mendukung target emisi nol bersih 2050 dalam strategi
Organisasi Maritim Internasional (IMO).
Kepala Bidang Pelatihan PPSDMPL Ilham Ashari sebagai perwakilan
dari PPSDMPL menyebut langkah ini sebagai awal yang berdampak jangka panjang.
"Kami ingin memajukan kerja sama yang bermakna antara Belanda dan
Indonesia untuk mewujudkan emisi nol bersih 2050 melalui penguatan kompetensi
SDM di bidang pelayaran hijau dan dekarbonisasi, demi menjaga kelestarian dan
masa depan Bumi melalui sektor maritim," ujarnya.
Upaya tersebut berpijak pada kerja sama maritim
Indonesia–Belanda yang nota kesepahamannya (memorandum of understanding/MoU)
telah diperpanjang hingga 2029. Kerja sama ini menjadi payung pengembangan
pelayaran hijau dan pelabuhan ramah lingkungan. Diskusi dalam lokakarya
menyoroti bahwa inovasi teknologi maritim sebenarnya sudah tersedia, tetapi
keberhasilan penerapannya bergantung pada kesiapan pembiayaan, infrastruktur
pendukung, regulasi yang adaptif, dan tata kelola kelembagaan.
Melalui wadah seperti Forum Maritim Bilateral (Bilateral
Maritime Forum/BMF), PPSDMPL mendorong kolaborasi lintas batas antara
pemerintah, industri, akademisi, dan lembaga internasional. Sinergi itu
diharapkan dapat menjembatani ambisi dekarbonisasi global menuju sektor
pelayaran nasional yang berdaya saing, inklusif, adaptif, dan berkelanjutan.