Cirebon, 5 November 2025 – Pusat Pengembangan Sumber
Daya Manusia Perhubungan Laut (PPSDMPL) Kementerian Perhubungan, bekerja sama
dengan International Transport Workers' Federation (ITF), telah sukses
menyelenggarakan Training of Trainers (ToT) on Mental Health Management for
Seafarers.
Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari, dari tanggal 3
hingga 5 November 2025 di SMK Pelayaran Buana Bahari, Cirebon. Bertujuan untuk
membekali para pengajar di sekolah pelayaran dengan kompetensi mengelola isu
kesehatan mental yang ada di lingkungan sekolah mulai dari siswa, pengajar
maupun pegawai sekolah ataupun institusi.
Pada acara pembukaan (3/11), Kepala Pusat Pengembangan SDM
Perhubungan Laut, Budi Rahardjo, dalam sambutannya menekankan bahwa kesehatan
mental pelaut adalah isu fundamental yang berdampak langsung pada
profesionalisme dan keselamatan pelayaran. Industri maritim diakui memiliki
tantangan kerja yang unik dan berat, mulai dari isolasi, waktu kerja panjang,
hingga terpisah dari keluarga, yang rentan menimbulkan stres dan depresi.
"Para peserta ToT ini, yang merupakan pengajar di
politeknik dan sekolah kejuruan maritim, memegang peran yang sangat krusial.
Anda adalah garda terdepan untuk membekali para calon pelaut kita," ujar
Budi Rahardjo saat pembukaan.
Beliau menambahkan bahwa calon pelaut tidak hanya harus
kompeten secara teknis, tetapi juga harus tangguh dan sehat secara mental.
Pelatihan ini diharapkan dapat ditindaklanjuti dengan adopsi materi kesehatan
mental ke dalam kurikulum di setiap sekolah pelayaran binaan Kementerian Perhubungan.
Pelatihan yang diikuti oleh 35 peserta ini menghadirkan
pakar internasional, yaitu Dr. Syed Asif Altaf selaku Koordinator Program
Kesejahteraan Global ITF dan Mr. Brant Connors dari International Maritime
Health Association (IMHA).
Selama tiga hari, para peserta tidak hanya mendapatkan teori
tetapi juga wawasan praktis. Salah seorang peserta mengungkapkan metode baru
yang ia dapatkan untuk mendekati taruna yang bermasalah.
"Saya mendapatkan pengetahuan baru dalam menangani
taruna atau taruni. Saat berbicara dengan mereka, posisi duduk tidak saling
berhadapan, namun duduk berdampingan dengan bentuk 'V' agar tidak terkesan
seperti interogasi polisi dengan tersangka kejahatan," ungkapnya.
Pada acara penutupan, Rabu (5/11), Budi Rahardjo kembali
menegaskan amanah yang kini diemban para pengajar.
"Sebagai pengajar, Anda sekarang dipercayakan dengan
tanggung jawab besar—untuk berbagi apa yang telah Anda pelajari, membimbing
orang lain dengan kasih sayang, dan menumbuhkan budaya keterbukaan serta
kepedulian di institusi maritim kita," tegasnya.
Ia berharap pelatihan ini menjadi langkah konkret untuk
memastikan generasi pelaut di masa depan unggul dalam keterampilan teknis
sekaligus ketahanan mental.
"Selamat kepada seluruh peserta. Semoga pelatihan ini
menjadi langkah baru menuju terciptanya komunitas maritim yang lebih sehat,
lebih empatis, dan lebih suportif," tutup Budi Rahardjo.